Pengabdian kepada Masyarakat di SD Merdeka Sekolah, Bojongnangka
SD Merdeka Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang menerapkan pendidikan inklusif, yaitu lembaga pendidikan juga menerima murid dengan kebutuhan khusus, berlokasi di Kecamatan Bojongnangka Kabupaten Tangerang. Sebagai lembaga yang menerapkan pendidikan inklusif, SD Merdeka Sekolah memiliki sistem pendidikan yang memungkinkan semua anak, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus, untuk belajar bersama dalam lingkungan sekolah yang sama, serta menghargai perbedaan dan memberikan dukungan yang dibutuhkan agar semua peserta didik dapat berkembang. Tujuannya adalah untuk memastikan akses pendidikan yang setara bagi semua, mendorong toleransi, dan mempersiapkan siswa menghadapi dunia yang beragam.
SD Merdeka Sekolah telah melaksanakan program sekolah inklusi sejak tahun 2000, sejalan dengan Permendiknas No. 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang memiliki kelainan dan/atau potensi kecerdasan atau bakat istimewa. Penerapan program ini juga mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education). Melalui program inklusi, sekolah berupaya menciptakan suasana belajar yang ramah anak, menghargai perbedaan, dan mendorong kolaborasi antara guru, peserta didik, serta orang tua.
Penerapan program inklusi di SD Merdeka Sekolah dilakukan secara bertahap. Sekolah saat ini memiliki dua belas siswa ABK dengan variasi kondisi seperti autisme ringan, disleksia, dan gangguan konsentrasi (ADHD). Dalam pelaksanaannya, sekolah menyediakan beberapa dukungan utama:
- Guru Pendamping Khusus (GPK) yang bertugas mendampingi siswa ABK di kelas dan menyusun strategi pembelajaran individual.
- Rencana Pembelajaran Individual (RPI) untuk menyesuaikan kurikulum sesuai kemampuan masing-masing anak.
- Pelatihan bagi guru reguler agar mampu menerapkan pendekatan pembelajaran diferensiasi dan metode komunikasi inklusif.
- Kerja sama dengan lembaga profesional seperti psikolog pendidikan dan Puskesmas setempat untuk asesmen dan pendampingan anak.
Kegiatan pembelajaran dilakukan secara kolaboratif antara guru kelas dan GPK. Pembelajaran tematik, aktivitas seni, dan kegiatan ekstrakurikuler diadaptasi agar seluruh siswa dapat berpartisipasi aktif tanpa terkecuali.
Meskipun pelaksanaan program inklusi telah berjalan dengan baik, SD Merdeka Sekolah menghadapi sejumlah kendala dan tantangan yang perlu mendapat perhatian:
- Keterbatasan sumber daya manusia. Jumlah guru pendamping khusus masih sangat terbatas dibandingkan jumlah siswa ABK. Akibatnya, proses pendampingan belum optimal pada setiap kelas.
- Kurangnya kompetensi guru reguler. Tidak semua guru memahami pendekatan pembelajaran inklusif, terutama dalam menangani siswa dengan kebutuhan khusus tertentu seperti autisme atau disleksia.
- Fasilitas dan sarana yang belum memadai. Sekolah belum memiliki ruang terapi, alat bantu belajar adaptif, serta media visual yang sesuai dengan kebutuhan anak.
- Keterlibatan orang tua yang bervariasi. Beberapa orang tua ABK belum memahami pentingnya pendidikan inklusif, sehingga kolaborasi antara sekolah dan keluarga masih terbatas.
- Belum adanya dukungan anggaran khusus. Program inklusi belum mendapatkan alokasi dana yang memadai dari pemerintah daerah, sehingga pengadaan alat bantu belajar masih bergantung pada inisiatif sekolah dan bantuan masyarakat.
- Stigma sosial dan kurangnya kesadaran masyarakat. Masih terdapat pandangan negatif terhadap anak berkebutuhan khusus, baik dari sebagian orang tua siswa maupun masyarakat sekitar, yang dapat menghambat penerimaan sosial di lingkungan sekolah.
Permasalahan-permasalahan tersebut menjadi tantangan penting dalam keberlanjutan program inklusi dan menuntut adanya kebijakan, pelatihan, serta dukungan kelembagaan yang lebih kuat.Meskipun menghadapi keterbatasan, program sekolah inklusi menunjukkan hasil positif. Anak-anak berkebutuhan khusus mengalami peningkatan kemampuan sosial dan emosional, serta mulai menunjukkan kepercayaan diri dalam berinteraksi dengan teman-temannya.Siswa reguler juga menunjukkan peningkatan sikap empati, solidaritas, dan penghargaan terhadap perbedaan. Guru menjadi lebih kreatif dalam menyusun strategi pembelajaran yang variatif dan adaptif terhadap kebutuhan siswa.Program ini turut memperkuat citra sekolah sebagai lembaga pendidikan yang ramah dan humanis.
Hal yang mendesak dan menjadi permasalahan SD Merdeka Belajar dan perlu dukungan secepatnya adalah perkembangan pendekatan pendidikan terakhir yang mendorong guru penggunaan pendekatan deep learning dalam proses pendidikan anak. Tim pengabdian masyarakat membantu dengan memberikan pemaparan dan diskusi terkait deep leaning Kegiatan ini diawali dengan diskusi langsung dengan pengelola sekolah. Selanjutnya pengelola sekolah mengusulkan untuk diadakan sosialisasi kepada para guru dan pengelola sekolah dengan topik deep learning dan pemanfaatan IT/ chat gpt dalam meningkatkan proses pembelajaran.Sosialisasi dilakukan pada 25 September 2025 di lokasi SD Merdeka Belajar, Bojong Nagka yang dihadiri oleh para guru dan pengelola SD Merdeka Belajarserta beberapa guru dan pengelola pendidikan SD disekitar Kecamatan Bojong Nagka.
Pada kesempatan terakhir Kepala Sekola SD Merdeka Belajar mengucapkan terima kasih kepada Tim PKM PKN STAN. Beliau mengharapkan tim juga dapat membantu SD Merdeka Belajar diwaktu lain. Beliau menyampaikan tidak dapat memberikan balasan apa-apa dan semoga Alloh memberikan balasan yang baik.