Lompat ke isi utama

PKN STAN dan INSPEN Perkuat Kolaborasi Akademik Lewat Lecture Exchange: Penilaian Benda Seni Kriya

Tangerang Selatan, 13 November 2025 – Politeknik Keuangan Negara STAN (PKN STAN) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat jejaring akademik internasional melalui kegiatan Lecture Exchange bersama Institut Penilaian Negara Malaysia (INSPEN). Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat Internasional/International Community Service “Driving Sustainable Public Asset Value Through Highest-And-Best-Use Analysis And Property Investment Accounting”. Kegiatan ini dibuka oleh Ketua Program Studi Manajemen Aset Publik Sarjana Terapan Politeknik Keuangan Negara STAN–Kementerian Keuangan, Rokhmat Taufiq Hidayat, S.E., M.Ak. Acara semakin menarik dengan kehadiran Nugroho Yonimurwanto, dosen PKN STAN, sebagai narasumber yang membawakan materi edukatif bertajuk “Penilaian Benda Seni Kriya”, sebuah topik yang mengulas nilai dan makna di balik karya seni sebagai aset bernilai tinggi.

Acara yang dimoderatori oleh Syanni Yustiani ini diikuti secara antusias oleh seluruh cawangan Jabatan Penilaian dan Perkhidmatan Harta (JPPH) Malaysia, pelajar INSPEN, serta pejabat Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Jawa Barat. Kolaborasi lintas negara ini menjadi forum strategis untuk memperdalam pemahaman tentang metodologi penilaian aset seni dan implikasinya dalam kebijakan pengelolaan kekayaan negara.

 

Penilaian Seni Kriya: Antara Nilai Estetika dan Akuntabilitas Publik

Dalam paparannya, Nugroho Yonimurwanto menegaskan bahwa penilaian benda seni kriya tidak hanya menyangkut aspek keindahan atau nilai pasar, tetapi juga menyentuh dimensi akuntabilitas dan transparansi pengelolaan aset publik.

“Karya seni kriya adalah ekspresi budaya sekaligus aset negara. Oleh karena itu, proses penilaiannya harus dilakukan dengan metode ilmiah agar nilainya dapat dipertanggungjawabkan secara ekonomi,” ujar Nugroho.

Beliau menjelaskan dua pendekatan utama dalam penilaian seni kriya, yaitu pendekatan pasar (market approach) dan pendekatan biaya (cost approach). Faktor-faktor seperti kesejarahan, reputasi seniman, keindahan visual, orisinalitas, kelangkaan, serta riwayat akuisisi menjadi komponen penting yang memengaruhi nilai wajar suatu karya seni.

Khusus untuk karya yang tergolong benda cagar budaya (BCB), nilai tambahnya bisa mencapai hingga 500% dari nilai dasar pembuatan, terutama bila memiliki kaitan historis dengan tokoh nasional atau kepala negara.

 

Edukasi Penilai dan Efek Pencegahan 

Selain memperluas wawasan akademik, kegiatan ini juga memiliki dimensi edukatif yang kuat, terutama dalam mendorong integritas dan kehati-hatian dalam proses penilaian aset seni.

Praktik penilaian yang tidak akurat atau dilakukan tanpa dasar ilmiah dapat berimplikasi pada distorsi nilai aset negara, bahkan berpotensi menimbulkan kerugian negara.

Melalui kegiatan ini, PKN STAN dan INSPEN menegaskan pentingnya profesionalisme penilai, standarisasi metodologi, serta pertukaran pengetahuan antarnegara dalam menjaga keadilan dan transparansi sektor publik.

 

Sinergi Regional dalam Pendidikan Penilaian Aset

Kolaborasi antara PKN STAN dan INSPEN telah menjadi agenda berkelanjutan yang mempererat hubungan akademik antara Indonesia dan Malaysia, khususnya di bidang penilaian aset dan manajemen kekayaan negara.

Partisipasi aktif pejabat BPKAD Jawa Barat dan jajaran JPPH Malaysia menunjukkan bahwa isu penilaian aset seni kriya kini menjadi perhatian regional, seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya tata kelola aset budaya yang transparan dan terukur.

Kegiatan Lecture Exchange ini diharapkan menjadi pijakan bagi kerja sama riset dan pelatihan lanjutan antara kedua institusi, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam memastikan bahwa setiap nilai budaya baik seni, kriya, maupun cagar Sejarah diukur dengan standar profesional dan berintegritas tinggi.

Tim Humas PKN STAN
(Sumber: Program Studi Manajemen Aset Publik Sarjana Terapan, PKN STAN)