PKN STAN Turun ke Desa Tertinggal "Mendampingi Koperasi Merah Putih Siap Jalan, dan Menata BUMDes untuk Ketahanan Pangan"
Desa Cibeureum, Kecamatan Cijaku, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, tak ingin memiliki Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan BUMDes “sekadar ada”. Keduanya harus siap jalan , memberikan manfaat yang optimal dan bisa dipertanggungjawabkan sesuai kaidah yang berlaku. Karena itu, selama 11–13 Februari 2026, tim pengabdian kepada masyarakat Politeknik Keuangan Negara STAN bersama mahasiswa Program Mitra Desa turun langsung mendampingi pengurus Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Cibeureum. Fokusnya jelas: membantu desa menyiapkan fondasi tata kelola kelembagaan dan keuangan KDMP dan BUM Desa, agar program pemerintah melalui KDMP dan ketahanan pangan berjalan lebih bagus, transparan, dan berkelanjutan.
Pendampingan ini berangkat dari kondisi lapangan yang khas desa yang sedang berbenah dari kategori desa tertinggal menuju level lebih baik. KDMP Desa Cibeureum masih berada pada tahap pra-operasional. Gedung sekretariat masih dalam proses pembangunan, belum ada unit usaha riil yang berjalan, dan transaksi keuangan yang terjadi baru berkisar pada pengumpulan simpanan pokok dan simpanan wajib sebagai modal awal, sekaligus pengurusan legalitas seperti NPWP dan NIB. Di saat seperti ini, tantangan terbesar justru bukan “besar-kecilnya usaha”, melainkan bagaimana koperasi sejak awal dibangun dengan aturan main yang jelas dan pencatatan yang tertib, serta keterlibatan masyarakat untuk menjadi anggota KDMP. Dari hampir 2000 warga dan 900 KK, baru ada 20 warga yang telah tercatat seagai angggora KDMP Cieubereum.
Dalam suasana diskusi yang hangat, tim PKN STAN membantu pengurus KDMP memahami kembali landasan organisasi: mulai dari konsep koperasi, pembacaan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), hingga pembagian tugas dan tanggung jawab pengurus agar roda organisasi kelak tidak berjalan “serba perkiraan”. Yang menarik, pendampingan tidak berhenti di tataran konsep. Pengurus juga diajak praktik langsung menggunakan sistem pencatatan digital melalui pelatihan aplikasi keuangan KDMP produk dari PKN STAN. Simulasi penginputan data anggota dan pencatatan transaksi dasar dilakukan menyesuaikan kondisi riil yang sedang dihadapi, yakni pencatatan simpanan. Harapannya sederhana namun penting: dana awal yang terkumpul tercatat rapi, mudah ditelusuri, dan tidak rawan salah catat saat aktivitas koperasi mulai berkembang. Namun kendala utama dalam proses inputing data ini adalah KDMP belum memiliki Laptop/Komputer sendiri.
Di sisi lain, BUMDes Cibeureum menjalankan unit usaha sektor riil yang dekat dengan keseharian warga: peternakan kambing dan budidaya ikan. Namun, dari peninjauan lapangan terlihat bahwa pencatatan keuangan BUMDes masih sangat sederhana, umumnya hanya mencatat arus kas masuk dan kas keluar. Pola ini membuat pengelola kesulitan memantau aset dan persediaan secara menyeluruh, padahal pada usaha ternak dan perikanan, “kekayaan” tidak hanya berbentuk uang tunai, tetapi juga ternak, ikan, pakan, obat, peralatan, hingga fasilitas kandang dan kolam.
Melalui pendampingan, tim memberikan penguatan tata kelola usaha sekaligus membantu menyiapkan perangkat administrasi yang mudah dipakai. Pengelola BUMDes diperkenalkan pada cara sederhana namun terstandar untuk mencatat persediaan dan aset, sehingga mutasi ternak/ikan dan inventaris dapat dipantau lebih baik. Dengan pencatatan yang lebih lengkap, BUMDes diharapkan memiliki kontrol internal yang lebih kuat, jumlah fisik ternak, pakan, dan perlengkapan bisa dicocokkan dengan catatan administrasi, sehingga risiko kehilangan aset dapat ditekan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen PKN STAN untuk menghadirkan manfaat Tri Dharma Perguruan Tinggi yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat yang selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo-Gibran. Bagi desa, pendampingan ini memberi “pegangan” yang konkret : koperasi yang baru lahir dibekali pondasi kelembagaan dan sistem pencatatan sejak dini, sementara BUMDes didorong melampaui pembukuan kas menuju pengelolaan aset dan persediaan yang lebih akuntabel. Bagi kampus, kegiatan ini memperkuat peran sebagai mitra strategis desa dalam membangun tata kelola yang sehat, karena ketahanan pangan, pada akhirnya, dimulai dari tata kelola yang tertib. Berdasarkan program pengmas ini, setelah dilakukan evaluasi maka diperlukan Pengmas berkelanjutan agar pengurus (mitra Pengmas) benar-benar bisa mandiri dalam pengelolaan KDMP dan BUM Desa.
- Log in to post comments