UMKM Melek Akuntansi, PKN STAN Hadirkan Solusi Digital di Kecamatan Larangan
Tangerang Selatan, Juli 2025Di tengah geliat ekonomi kerakyatan yang mulai bangkit pasca pandemi, masih banyak pelaku UMKM yang menghadapi tantangan dalam satu aspek krusial: pencatatan keuangan. Menjawab persoalan ini, tim dosen dari Politeknik Keuangan Negara STAN melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa “Pendampingan Penyusunan Laporan Keuangan UMKM Kecamatan Larangan, Kota Tangerang.”Program yang berlangsung sejak April hingga Juni 2025 ini menyasar tiga pelaku UMKM lokal, yaitu Natani Snack, Dapoerindo, dan Nyitnyit. Ketiga UMKM ini dikenal sebagai usaha rumahan yang berkembang pesat di wilayah Larangan, namun selama ini belum memiliki sistem pencatatan transaksi dan pelaporan keuangan yang tertata rapi.
Dari Dapur ke Digital: Lompatan UMKM Naik Kelas
Kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama antara Rahayu Kusumawati, Irwan Suliantoro, dan Sakti Prabowo, dimana seluruhnya merupakan dosen pada Prodi DIV Manajemen Keuangan Negara PKN STAN, ini tidak hanya sekadar memberikan pelatihan teknis tentang penyusunan laporan keuangan. Akan tetapi, lebih dari itu, program ini menjadi jembatan bagi para pelaku UMKM untuk mengenal pentingnya akuntabilitas dalam usaha, dan bagaimana teknologi sederhana dapat mempercepat langkah mereka.
“Kami tidak datang membawa teori sulit. Kami hadir sebagai mitra yang ingin mendampingi secara langsung, membimbing UMKM mencatat transaksinya dengan benar, lalu membuat laporan keuangan berbasis aplikasi SI-APIK yang sederhana dan mudah digunakan,” ujar Rahayu. Ia bersama dua rekannya, Sakti Prabowo (ahli statistik dan data ekonomi) serta Irwan Suliantoro (spesialis perencanaan anggaran), menyusun materi pelatihan yang aplikatif. Kegiatan dimulai dengan sosialisasi dasar-dasar akuntansi, dilanjutkan praktik penggunaan aplikasi SI-APIK, dan ditutup dengan penyusunan laporan keuangan berbasis sistem digital.
Suarakan Harapan Natani Snack
“Dulu semua kami catat di buku tulis, atau bahkan hanya ingat-ingat di kepala,” ungkap Ambar, pemilik UMKM Natani Snack. “Tapi sekarang, saya bisa tahu berapa keuntungan saya bulan ini, berapa utang yang harus ditagih, dan berapa bahan baku yang sudah dibeli. Rasanya seperti punya sistem keuangan profesional!” Ibu Ambar ini mengaku awalnya tidak percaya diri karena menganggap laporan keuangan itu hanya untuk perusahaan besar. “Ternyata kami juga bisa. Apalagi dengan aplikasi yang diajarkan, tinggal input transaksi, lalu bisa langsung lihat ringkasan laporan. Sangat membantu kalau suatu saat kami ingin ajukan pinjaman ke bank atau buka cabang baru,” kata Ambar.
Kolaborasi yang Menginspirasi
Salah satu kekuatan kegiatan ini adalah pendekatannya yang partisipatif dan berkelanjutan. Tim dosen tidak hanya melatih lalu pergi, tetapi juga melakukan monitoring dan pendampingan rutin selama tiga bulan. Mereka bahkan membuka sesi konsultasi melalui daring dan juga luring untuk membantu para pelaku UMKM menghadapi kendala secara real time.
Menurut Sakti Prabowo, pendekatan ini penting agar pelatihan tidak sekadar menjadi seremoni, melainkan menghasilkan perubahan perilaku yang nyata. “Kita tidak ingin ilmu ini berhenti di pelatihan. Kita ingin mereka benar-benar mandiri, bahkan menularkan pengetahuannya ke sesama pelaku usaha,” ujarnya. Hal senada disampaikan oleh Irwan Suliantoro. “Dengan laporan keuangan yang rapi, UMKM bisa menyusun rencana anggaran lebih baik. Mereka tahu kapan harus berinvestasi, kapan harus hemat, dan kapan saatnya berkembang. Ini adalah modal penting dalam membangun keberlanjutan usaha,” tambahnya.
Melek Keuangan adalah Kunci Kemandirian UMKM
Program pengabdian ini merupakan salah satu bentuk konkret kontribusi dunia akademik terhadap masyarakat. Tidak hanya menjawab permasalahan aktual di lapangan, tetapi juga mendorong digitalisasi dan inklusi keuangan pada segmen usaha yang selama ini kurang tersentuh. Ketua Program Studi IV Magister Keuangan Negara, Budi Mulyana, menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif ini. “Inilah wajah pengabdian yang ideal: menyasar kebutuhan nyata, melibatkan teknologi tepat guna, dan mendorong kemandirian ekonomi dari akar rumput,” ujarnya.
Ke depannya, tim dosen PKN STAN berencana mereplikasi kegiatan serupa di wilayah lain yang memiliki potensi UMKM besar namun minim dukungan teknis dalam tata kelola keuangan. Mereka juga membuka peluang kolaborasi lintas perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan lembaga pembiayaan. Karena UMKM tak hanya butuh modal, tetapi juga pengetahuan, kepercayaan diri, dan sistem yang memampukan mereka bertahan serta tumbuh di tengah perubahan zaman.