Lompat ke isi utama

Meningkatkan Kepatuhan Pajak Lewat Pendampingan Langsung: Aksi Nyata di KPP Pratama Pondok Aren

Tangerang Selatan, Maret 2025, Musim pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan kembali tiba, dan seperti biasa, masyarakat Indonesia kembali dihadapkan pada kewajiban penting sebagai warga negara: melaporkan dan menyampaikan SPT Tahunan mereka tepat waktu. Namun tahun ini, ada yang berbeda di KPP Pratama Pondok Aren. Sebuah kegiatan pengabdian kepada masyarakat hadir bukan hanya sebagai rutinitas akademik, tetapi sebagai aksi nyata dalam mendukung literasi pajak dan meningkatkan kepatuhan sukarela.

Tim pengabdian masyarakat yang terdiri dari Benny Gunawan, Rachmad Utomo, dan Rahayu Kusumawati hadir langsung di tengah masyarakat wajib pajak untuk memberikan pendampingan pengisian SPT Tahunan. Kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi nyata dari kalangan akademisi dan praktisi perpajakan untuk membangun sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam mewujudkan sistem perpajakan yang lebih partisipatif dan inklusif.

Literasi Pajak Masih Jadi Tantangan
Pendampingan ini lahir dari hasil pengamatan bahwa masih banyak wajib pajak, khususnya dari kalangan orang pribadi, yang belum sepenuhnya memahami tata cara pengisian dan pelaporan SPT Tahunan. Hal ini sering kali menyebabkan keterlambatan, kesalahan pengisian, bahkan ketidakpatuhan administratif. Menurut Benny Gunawan, kegiatan ini bukan sekadar memenuhi kewajiban pengabdian, tapi juga sebagai sarana edukatif. “Banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa saat ini pelaporan SPT sudah bisa dilakukan secara online melalui e-Filing. Namun, kendala teknis dan minimnya literasi digital menjadi penghambat utama,” ujar Benny.

Oleh karena itu, tim ini mengambil langkah konkret dengan hadir langsung di lokasi strategis, yaitu KPP Pratama Pondok Aren, untuk membantu para wajib pajak secara tatap muka. Dalam pelaksanaannya, tim melakukan edukasi mengenai jenis-jenis penghasilan yang perlu dilaporkan, bagaimana cara menghitung penghasilan kena pajak, hingga memberikan simulasi pengisian SPT menggunakan sistem DJP Online.

Respons Positif dan Antusiasme Masyarakat
Sejak hari pertama kegiatan dimulai, antusiasme masyarakat cukup tinggi. Para wajib pajak merasa sangat terbantu dengan kehadiran tim ini, khususnya bagi mereka yang belum terbiasa dengan sistem pelaporan daring. Tidak sedikit pula yang merasa lebih percaya diri mengisi SPT mereka setelah menerima pendampingan. Rachmad Utomo menyampaikan, “Kami menemukan banyak kasus di mana wajib pajak tidak tahu bahwa tunjangan, honor, atau penghasilan dari usaha sampingan juga harus dilaporkan. Lewat kegiatan ini, kami bisa mengklarifikasi dan memberikan pemahaman yang tepat sesuai regulasi terbaru.” Dalam sesi pendampingan, tim juga memberikan edukasi terkait pentingnya kepatuhan pajak dalam pembangunan nasional. “Pajak bukan sekadar kewajiban, tetapi bentuk kontribusi kita terhadap fasilitas umum yang kita gunakan sehari-hari—jalan, pendidikan, layanan kesehatan, dan lainnya,” imbuh Rahayu Kusumawati.     

Sinergi dengan DJP dan Strategi Jangka Panjang
Kegiatan ini mendapatkan sambutan positif dari pihak KPP Pratama Pondok Aren. Kepala KPP menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif ini dan berharap sinergi semacam ini terus dilanjutkan di masa mendatang. “Adanya keterlibatan dari unsur akademisi sangat membantu kami dalam menjangkau masyarakat wajib pajak dengan pendekatan yang lebih edukatif. Kolaborasi semacam ini bisa menjadi model yang dikembangkan ke wilayah kerja lainnya,” ujar perwakilan dari KPP.

Sebagai bagian dari rencana jangka panjang, tim pengabdian juga menyusun laporan kegiatan dan rekomendasi strategis untuk pengembangan literasi pajak di komunitas lokal. Salah satu gagasannya adalah membentuk Pojok Pajak Mandiri di perguruan tinggi maupun pusat layanan publik yang bisa diakses masyarakat umum.

Dari Pengabdian ke Perubahan
Apa yang dilakukan oleh tim pengmas ini tidak hanya berhenti sebagai agenda pengabdian tahunan, namun juga membawa semangat perubahan: bahwa setiap warga negara, melalui bidang keahlian masing-masing, bisa menjadi agen edukasi untuk masyarakat. Langkah sederhana seperti mendampingi wajib pajak secara langsung ternyata memberikan dampak yang besar: peningkatan kesadaran, keterampilan, dan kepatuhan sukarela. Dengan pendekatan yang ramah, personal, dan berorientasi solusi, kegiatan ini berhasil menjembatani kesenjangan informasi antara otoritas pajak dan masyarakat. Di tengah tantangan digitalisasi dan dinamika regulasi, kegiatan pengabdian semacam ini bukan hanya relevan, tetapi sangat dibutuhkan.

Menatap Masa Depan
Secara berkelanjutan, tim berkomitmen untuk terus melakukan edukasi pajak kepada kelompok masyarakat yang belum tersentuh layanan optimal, seperti pelaku UMKM, pekerja sektor informal, hingga pensiunan. Dengan dukungan dari instansi pemerintah dan dunia pendidikan, mereka optimistis bisa mendorong terbentuknya ekosistem pajak yang sehat dan berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, terbukti bahwa literasi pajak tidak harus diajarkan di ruang kelas semata, tetapi bisa dihadirkan secara langsung, humanis, dan menyenangkan.