PKN STAN DAMPINGI UMKM BATIK CIKUYA: MENGUATKAN KEMANDIRIAN MELALUI PENYUSUNAN HARGA POKOK PRODUKSI
Tangerang Selatan, Juli 2025 – Dalam rangka penguatan kapasitas pelaku usaha mikro di bidang ekonomi kreatif, Politeknik Keuangan Negara STAN (PKN STAN) melalui tim dosennya kembali menunjukkan komitmen pengabdian kepada masyarakat. Kali ini, pendampingan diberikan kepada UMKM Batik Cikuya, sebuah unit usaha yang berkembang pesat di Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang, Banten. Fokus dari kegiatan ini adalah edukasi dan pendampingan penyusunan Harga Pokok Produksi (HPP) bagi produk-produk batik khas Cikuya terutama batik tulis dan cap.
Mitra dengan Potensi Besar, Tantangan dalam Pengelolaan Biaya
UMKM Batik Cikuya dikenal dengan produk-produk batik tulis, batik cap, hingga eco-print yang mengangkat kearifan lokal dan menjadi bagian dari branding desa. Beberapa motif yang menjadi ciri khas antara lain tongtolok, lambang Tigaraksa, dan Makam Kramat Solear. Produk-produk ini telah menarik perhatian lembaga nasional, termasuk Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) serta Pemerintah Kabupaten Tangerang.
Meskipun memiliki potensi yang menjanjikan, UMKM Batik Cikuya menghadapi kendala dalam pengelolaan usaha secara profesional, terutama dalam aspek keuangan dan akuntansi biaya. Selama ini, penetapan harga jual produk dilakukan secara konvensional, tanpa perhitungan biaya produksi yang sistematis. Hal ini berisiko menimbulkan ketidaktepatan dalam menentukan harga, potensi kerugian tersembunyi, hingga kesulitan dalam perencanaan usaha jangka panjang.
Intervensi Akademik: Kolaborasi Strategis antara Kampus dan Desa
Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari PKN STAN yang terdiri dari dosen-dosen Program Studi Akuntansi Sektor Publik, yaitu Iskandar (ketua), Agung Nugroho, Zef Arfiansyah, dengan dibantu oleh mahasiswa PKN STAN yaitu Saproni, dan Etanevan Prayoga Hanif, hadir dengan pendekatan solutif dan kolaboratif. Program ini dilaksanakan secara hybrid (daring dan luring) selama periode April hingga Juni 2025.
Langkah-langkah kegiatan dimulai dengan edukasi konsep dasar HPP secara daring yang dilaksanakan pada 23 Mei 2025. Materi yang disampaikan meliputi pemahaman jenis-jenis biaya (bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead), manfaat perhitungan HPP bagi UMKM, serta teknik sederhana untuk menghitungnya. Setelah itu, tim melakukan diskusi mendalam dengan pengelola BUMDes dan pengrajin untuk mengidentifikasi proses produksi, struktur biaya, hingga hambatan dalam pencatatan.
“Selama ini mereka cukup intuitif dalam mengelola usaha, namun setelah diberikan kerangka berpikir biaya, mitra semakin paham pentingnya dokumentasi dan perhitungan yang sistematis,” ujar Iskandar, ketua tim yang juga merupakan dosen akuntansi dan keuangan.
Capaian dan Evaluasi: Langkah Awal Menuju Kemandirian Usaha
Program pendampingan ini berhasil menghasilkan dokumen perhitungan HPP awal untuk batik tulis dan cap, serta daftar identifikasi jenis biaya dan proses produksi. Meski demikian, evaluasi tim menunjukkan bahwa pencatatan biaya overhead seperti listrik, penyusutan alat, hingga transportasi masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, tim menyarankan pelatihan lanjutan dengan memperkenalkan metode Activity-Based Costing dan penggunaan aplikasi sederhana seperti Excel atau Google Sheet untuk pencatatan transaksi harian.
“Ini bukan akhir, justru langkah awal. Setelah memahami biaya produksi, langkah berikutnya adalah menyusun laporan keuangan dan menganalisis profitabilitas produk. Kami siap mendampingi mereka ke tahap berikutnya,” jelas Iskandar selaku ketua tim.
Antusiasme Mitra dan Prospek Keberlanjutan
UMKM Batik Cikuya menyambut baik kegiatan ini. Dukungan penuh ditunjukkan mulai dari penyediaan peserta, tempat pelatihan, hingga keterlibatan aktif dalam diskusi. Menurut pengelola, kegiatan ini sangat relevan dengan kebutuhan mereka, terutama dalam menghadapi dinamika pasar dan pengembangan skala produksi.
Ke depan, penguatan program dapat diperluas pada penyusunan laporan keuangan sederhana, simulasi titik impas (break-even point), hingga strategi pricing berbasis segmen pasar. Program ini juga membuka peluang kolaborasi antara kampus dan desa yang lebih luas, khususnya dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis komunitas.
Dengan semangat gotong royong, sinergi antara akademisi dan pelaku usaha desa seperti ini menjadi model kolaborasi yang berdaya guna dalam mendorong kemandirian ekonomi lokal. Sebagai institusi pendidikan tinggi, PKN STAN menunjukkan bahwa peran keilmuan dapat menyatu dengan praktik di lapangan demi pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.
- Log in to post comments