MERAWAT HARAPAN DARI BABAKAN: KETEGUHAN PENGURUS KOPERASI MERAH PUTIH DI TENGAH KETERBATASAN
Di sebuah sudut Kelurahan Babakan, Tangerang Selatan, udara pagi itu terasa lebih hangat dari biasanya, namun tak sehangat sambutan para pengurus Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP). Di meja sederhana yang dipenuhi sajian jajanan, mereka duduk bersama tim dosen dari PKN STAN. Ada binar optimisme di mata Bapak dan Ibu pengurus itu—bukan karena koperasi mereka telah menjadi raksasa, melainkan karena mereka baru saja menemukan "bahasa baru" bernama akuntansi. Di tengah memori transaksi telur dan minyak goreng, mereka menyadari bahwa setiap angka yang mereka catat dengan telaten merupakan fondasi bagi transparansi keuangan dalam mendukung kemandirian pangan yang selama ini mereka impikan.
Kehadiran tim dosen PKN STAN di Babakan bukanlah sekadar rutinitas akademik. Kegiatan ini merupakan wujud nyata dari Tridarma Perguruan Tinggi, yaitu Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Lebih dari itu, langkah Bapak Marsono (ketua tim), Ibu Ria Dewi Ambarwati (angota), dan Bapak Indrayansyah Nur (anggota) ini adalah bagian dari upaya kolektif untuk menyukseskan program pemerintah dalam mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan berkelanjutan. Pembangunan dari desa—atau dalam hal ini, dari tingkat kelurahan—menjadi kunci pemerataan ekonomi yang kini sedang diikhtiarkan melalui Koperasi Kelurahan Merah Putih.
Namun, di balik narasi besar pembangunan nasional tersebut, ada realitas yang jauh lebih bersahaja. KKMP Babakan bukanlah entitas bisnis yang mapan dengan sistem komputerisasi canggih. Sejauh ini, mereka baru mampu berupaya keras menjalankan usaha penjualan sembako seperti minyak goreng dan telur. Usai mendapatkan arahan dari Lurah Babakan, terungkap kerasnya perjuangan KKMP Babakan.
"Keterbatasan akses stok menjadi tantangan harian kami," ungkap Pak Yusdi, ketua koperasi. Saat ini, koperasi masih sangat bergantung pada pasokan dari BULOG agar harga yang ditawarkan kepada warga tetap bersaing. Mereka tahu, di tengah kenaikan harga bahan pokok, peran koperasi sebagai penyeimbang harga adalah nyawa bagi masyarakat sekitar. Meski stok yang terbatas menjadi kendala, mereka tak lantas menutup pintu.
Perjalanan menuju kemandirian tentu tidak selalu mulus. Di awal beroperasinya koperasi, ketidakpahaman menjadi kawan akrab bagi para pengurus. "Dulu, kami bahkan tidak benar-benar mengerti bagaimana menghitung komponen pembentuk Sisa Hasil Usaha (SHU)," kenang Bu Lusi, sekretaris koperasi dengan tawa getir yang diamini oleh pengurus lain yang hadir, yaitu Bu Soleha, Pak Mulyadi dan yang lainnya.
Namun, alih-alih patah arang karena minimnya pengetahuan, ketidakpahaman tersebut justru menjadi api yang memicu keinginan untuk belajar. Mereka sadar, semangat saja tidak cukup untuk menjaga koperasi tetap berdiri tegak. Di sinilah tim pengabdian masyarakat dari PKN STAN masuk sebagai katalisator.
Sejak awal Juni 2026, hubungan antara akademisi dan warga pun terjalin. Proses pendampingan dimulai dengan diskusi jarak jauh yang membedah berbagai kendala yang menghambat roda koperasi. Diskusi tersebut kemudian dilanjutkan dengan pertemuan langsung di Kelurahan Babakan pada 18 Juni 2026. Pertemuan yang dilakukan secara luring dan daring itu menjadi ruang bagi Tim Pengabdian untuk tidak hanya memberikan teori, tetapi juga mendampingi pengurus KKMP Babakan menyusun laporan keuangan yang sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku.
Bagi para pengurus yang sehari-harinya bekerja secara sukarela—tanpa imbalan profesional, hanya berbekal pengabdian untuk warga sekitar—pelatihan ini terasa seperti oase. Mereka dengan tekun menyerap ilmu baru, bertanya tentang hal-hal mendasar, dan mencatat dengan saksama setiap setiap informasi baru dari tim dosen.
Di tengah semua keterbatasan yang ada, para pengurus koperasi ini tetap berdiri kokoh. Mereka paham bahwa setiap lembar laporan keuangan yang rapi adalah cerminan dari amanah yang sedang mereka jalankan. Meski masih dalam tahap perjuangan, di mata mereka, koperasi bukan sekadar tempat menjual minyak atau telur, melainkan simbol harapan bahwa ekonomi masyarakat bisa dibangun dari niat baik dan ketulusan.
Melihat para pengurus KKMP Babakan hari ini, kita tidak hanya melihat orang-orang yang sedang belajar menyusun neraca atau laporan laba rugi. Kita sedang melihat sebuah potret ketangguhan masyarakat yang menolak untuk menyerah pada keadaan. Dengan dukungan penuh dari Lurah Babakan serta bimbingan berkelanjutan dari tim dosen PKN STAN, langkah kecil yang mereka ambil merupakan fondasi besar untuk masa depan. Perjuangan ini memang belum usai, namun dengan semangat yang tak kunjung padam, KKMP Babakan tengah membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang, melainkan tangga menuju kemandirian yang lebih kokoh.